Tribana

Ini Adalah Blog pribadi saya yang bercerita tentang suka duka menjadi GURU

05.22

Menjadikan Buku Bacaan sebagai Kebutuhan

Diposkan oleh Tri Bana

Menjadi manusia (baca: anak/siswa) seutuhnya tentu syaratnya sehat fisik dan mental. Agar fisik anak sehat, diperlukan makanan yang bergizi pada menu makanan sehari-hari. Seirama dengan pertumbuhan fisik, tentu saja pikiran anak  memerlukan “makanan yang bergizi” pula. Tetapi, dari fenomena yang ada di tengah-tengah masyarakat, seperti perilaku kekerasan yang diberitakan media masa,  tampaknya pikiran anak yang sedang tumbuh banyak yang “kurang gizi” (kurang bernilai pendidikan). Bahkan, dapat dikatakan pertumbuhan jiwa anak di berbagai tempat dalam kesehariannya kebanyakan disuguhi “racun” (perilaku kekerasan).

Siapa yang menyuguhi “racun”? Yang memberi “racun” tiada lain adalah orang tua dan/atau masyarakat tempat anak itu tumbuh-kembang. Si anak diajak atau digendong untuk melakukan kekerasan dalam menuntut sesuatu. Melihat perilaku anak—ikut melakukan kekerasan seperti yang ditayangkan TV—tampaknya masa depan anak penuh dengan perilaku kekerasan. Nilai-nilai kemanusiaan pun semakin tercampakkan.

Idealnya pikiran anak dalam keseharian disuguhi “makanan bergizi”. Yang dimaksud “makanan  bergizi” dalam konteks ini tentu saja buku bacaan yang bernilai pendidikan. Anak mestinya mengisi waktu luangnya dengan  kebiasaan membaca, salah satu kegiatan yang positif dalam menatap masa depan. Sayang, harapan untuk mengisi waktu luangnya dengan membaca tidak banyak terjadi. Di beberapa tempat, justru yang dilakukan adalah sesuatu yang merugikan dirinya sendiri, misalnya: belajar meneguk minuman keras (yang laki-laki), yang perempuan ngerumpi. Fenomena ini tentu tidak mencakup semua anak.

Kebiasaan membaca, sebagai salah satu kegiatan positif, perlu ditumbuhkembangkan sejak dini khususnya dalam dunia pendidikan. Melejitkan budaya baca anak sebagai strategi pendidikan adalah tugas pemerintah, guru, orang tua, dan juga masyarakat. Strategi ini bukanlah pekerjaan yang mudah karena kondisi masyarakat kita belum mejadikan membaca sebagai budaya, sangat  berbeda dengan “para bule” atau beberapa wisatawan asing yang datang ke Bali, misalnya. Kapan dan di mana saja mereka biasa membaca  untuk mengisi waktu senggangnya. Ketika wisatawan berjemur di pantai, kita melihat mereka membaca. Sambil menunggu kendaraan juga membaca. Hampir dapat dikatakan di negara mereka begitulah budaya masyarakatnya, yakni membaca. Aktivitas membaca sudah menjadi bagian keseharian. Pendek kata, membaca sudah menjadi budaya mereka.

 Mengapa kebiasaan baik orang asing itu tidak ditiru? Mengapa kalau kebisaan jelek mereka, seperti minum alkohol, dan nyabu, justru ditiru? Apakah kurangnya minat baca akibat sistem pendidikan yang memandang perpustakaan dengan sebelah mata? Atau, minat masyarakat kita untuk menguasai ilmu sangat kurang? Tampaknya perlu penelitian.

 

***

Sebetulnya salah satu permasalahan dunia pendidikan kita yang tidak kalah mendesaknya adalah menumbuhkan minat baca di kalangan anak didik. Hambatan untuk menumbuhkan minat baca pada anak begitu besar. Di rumah, acara-acara televisi dan permainan vidio game telah membuat anak semakin menjauhi buku-buku yang mestinya dibaca. Kemudian lingkungan tempat tinggal anak belum juga mendukung agar anak gemar membaca. Kebiasaan atau budaya-baca di lingkungan anak belum menjadi bagian dari hidupnya—belum sebanyak orang yang suka ngerumpi, atau minum-minum bagi laki-laki.

Di sekolah, gemar membaca masih sebatas slogan-slogan di perpustakaan. Guru pun boleh dikatakan belum menjadi panutan untuk menumbuhkan minat-baca pada anak. Guru masih sebatas menyuruh anak-anak agar gemar membaca sedangkan guru sendiri belum menjadikan dirinya sebagai contoh (sebagai model) orang yang gemar membaca. Guru belum banyak berbuat untuk meningkatkan aktivitas membaca pada dirinya. Dengan berbagai alasan yang dicari-cari mengapa ia (sebagai guru) belum sempat membaca buku-buku yang semestinya dibaca—sebagai ciri intektualitasnya. Padahal, karier seorang guru  diawali dengan aktivitas membaca sebelum melangkah ke aktivitas menulis—sebagai bukti adanya pengembangan profesi. Bagaimana bisa menulis kalau tidak suka membaca.

Guru yang professional adalah guru yang mencintai buku, sekaligus kreatif dalam kegiatan baca-tulis. Sayang, ada kendala atau persoalan klasik yakni gaji yang diterima belum memadai untuk membeli buku. Jika demikian persoalannya, mestikah menyerah? Tidak. Perpustakaan siap membantu jika uang untuk membeli buku sebagai kendala. Ada perpustakaan sekolah dan perpustakaan lain yang terdekat. Tidak perlu malu untuk menjadi anggota perpustakaan dan meminjam buku di tempat itu. Kalau ini dilakukan, pasti karier seorang guru bisa tercapai.

Ingin mendapatkan uang dari aktivitas baca-tulis? Begini resepnya! Biasanya perpustakaan menginformasikan buku yang baru terbit. Jika seorang guru kreatif menulis resensi buku yang baru terbit kemudian dikirim ke media cetak, maka hampir dapat dipastikan akan memberi pengahsilan berupa uang—honor. Sekurang-kurangnya cara ini telah penulis lakoni sendiri selama ini. Selanjutnya bukti pemuatan resensi di media cetak dikirim ke penerbit buku itu, maka penerbit akan mengirimkan beberapa buku sebagai hadiah.

Sebagai seorang guru, tentu pengalaman untuk mendapatkan buku secara gratis maupun honor dari menulis resensi ini bisa ditularkan kepada anak didik. Sekurang-kurangnya bisa sebagai perangsang bahwa mampu menulis resensi bisa menghasilkan uang, di samping mendapatkan buku secara gratis. Cara ini juga menjadi strategi dalam meningkatkan minat baca pada anak. Khusus guru mata melajaran bahasa dan sastra Indonesia, tentu menugaskan anak menulis resensi banyak memberikan manfaat.

Guru hendaknya semaksimal mungkin memanfaatkan perpustakaan sekolah dalam pengembangan materi pembelajaran. Dian Sinaga (2005) memberi penjelasan bahwa perpustakaan merupakan subsistem program pendidikan yang berpengaruh terhadap keberhasilan sekolah dalam mengemban misinya. Dengan demikian, perpustakaan sekolah harus dijadikan komponen tak terpisahkan dalam rangkaian pendidikan di sekolah. Perpustakaan sekolah harus berfungsi sebagai sarana yang menentukan proses belajar-mengajar. Jadi fungsi perpustakaan sekolah lebih ditekankan kepada fungsi edukatif dan fungsi rekreatif. Idealnya, semua ini sudah menjadi program kerja kepala sekolah untuk memajukan pendidikan.

Dalam prakteknya, tidak semua kepala sekolah memiliki wawasan yang memadai dalam membenahi perpustakaan sebagai fungsi edukasi maupun rekreasi. Dalam penunjukan staf perpustakaan, misalnya, sering ditugaskan staf pegawai tata usaha yang kinerjanya kurang baik di tempat semula. Agar jarang staf lain bisa berkomunikasi, ditaruhlah di perpustakaan. Demikian juga, jika ada penunjukan dari staf guru, kebanyakan guru yang kondisinya kurang sehat (fisik/mental) kemudian ditugaskan di perpustakaan. Bagaimana guru yang kurang sehat ini bisa mendayagunakan perpustakaan jika kondisinya kurang sehat. Jangan-jangan perpustakaan juga dibuat “sakit”.

Ada satu contoh perpustakaan sekolah, mungkin hanya berupa kasus. Selain kondisi penunjukan tenaga perpustakaan seperti tersebut di atas, dari sisi jumlah tenaga di perpustakaan pun terasa kurang memadai jika dilihat dari sisi jumlah murid yang harus dilayani. Jumlah siswa antara 850-900 orang hanya dilayani oleh dua orang petugas. Petugas ini pun hanya satu orang yang pernah mendapat Diklat Perpustakaan. Sering pula ruang perpustakaan terbuka tanpa petugas pelayanan atau pengawasan terhadap murid yang mengunjungi perpustakaan karena petugasnya diberikan pekerjaan lain.

Lebih menyedihkan lagi—sekadar contoh, perpustakaan dijadikan ruangan serba-guna oleh staf sekolah. Kalau dijadikan ruang pertemuan sewaktu-waktu masih bisa diterima. Yang kurang baik adalah staf sekolah menggunakan perpustakaan itu sebagai tempat makan bersama, seperti pesta jalan. Kondisi kita yang kurang biasa memelihara kebersihan habis makan akan mengundang hewan-hewan ( tikus, semut, kecoa) untuk masuk ke perpustakaan. Akibatnya, hewan-hewan itu ikut juga merusak buku yang ada di perpustakaan—akibat ada sisa makanan. Tempat perpustakaan yang kotor sudah tentu membuat siswa tidak senang berada di perpustakaan.

Jika ingin memajukan sekolah, tampaknya memulai dari pembenahan perpustkaan. Seperti kata para pakar pendidikan bahwa perpustakaan adalah jantungnya institusi pendidikan. Bahkan ada yang berpendapat, maju mundurnya sekolah bisa dilihat dari kondisi perpustakaan. Jika kondisi perpustakaannya baik, maka kondisi sarana dan prasarana lain dari sekolah itu akan baik pula. Dari kondisi perpustakaan yang baik akan dapat menuntun siswa, guru, dan sataf pegawai tata usaha sekolah untuk menjadi SDM yang berkualitas. Jika waktu luangnya digunakan untuk menambah ilmu dan memperluas wawasan berpikir dengan membaca di perpustakaan tentu akan berdampak positif dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM).

Khusus di lingkungan sekolah sesungguhnya menumbuhkembangkan minat baca pada anak tampaknya masih ada harapan. Persoalannya, adakah kemauan sekolah (kepala sekolah, guru, dan sataf pewagainya) untuk meningkatkan minat baca dengan terlebih dahulu menjadi model bagi para siswa? Kalau sudah ada, tampaknya pembenahan fisik perpustakaan dan pengadaan buku-buku perpustakaan lebih mudah daripada pembenahan sikap-mental yang kurang menjadikan kebiasaan membaca sebagai bagian dari keseharian. Idealnya, aktivitas membaca sebagai kebutuhan rohani itu seirama dengan kebutuhan fisik umumnya, seperti melakukan aktivitas makan, minum, dan berpakaian. Kalau untuk membeli rokok berani mengeluarkan uang sampai seratus ribu rupiah atau lebih, mengapa untuk membeli buku tidak berani?

Pelaksanaan aktivitas baca-tulis di sekolah sangat bergantung kepada sistem pendidikan dan kinerja para guru. Berbicara soal sistem pendidikan yang berpengaruh terhadap kinerja guru, maka semuanya ada di pihak pemerintah. Kondisi politik yang kurang stabil juga berdampak kepada dunia pendidikan, khususnya kinerja guru. Misalnya, kalau gurunya lebih banyak berpikir ke arah agar anak dapat menjawab soal-soal tes objektif—model soal ujian, maka kegiatan anak-anak akan berkutat kepada latihan menyilang/menghitamkan jawaban pada contoh soal pilihan ganda.

Sistem pengukuran dengan mengandalkan tes pilihan ganda pada pendidikan tingkat awal (SD) tentu lebih banyak “racunnya” daripada “madunya”. Anak sudah mulai dibatasi kreativitas berpikirnya oleh kunci jawaban. Banyak contoh soal bersifat membatasi kreativitas berpikir anak pada soal pilihan ganda. Anak lebih banyak dicekoki tentang jawaban yang benar sesuai kuni dari gurunya.  Semua ini mengakibatkan buku bacaan di perpustakaan kurang diperhatikan oleh anak, termasuk para guru.

          Aktivitas pengembangan baca-tulis di dunia pendidikan kita tampaknya berkaitan dengan sistem yang ada. Melihat sistem pendidikan tingkat dasar dan lanjutan seperti sekarang ini, tampaknya si anak tidak disirami dengan nilai-nilai pendidikan lewat membaca buku-buku di perpustakaan.

Seperti sudah dipaparkan, aktivitas membaca buku-buku di perpustakaan tentu akan memberikan hasil yang lebih baik dalam jangka panjang sebab wawasan berpikir anak akan berkembang. Tetapi, hasil jangka panjang itu kurang mendapat perhatian. Dari fenomena yang ada sekarang, tidaklah berlebihan jika dikatakan mutu pendidikan kita semakin merosot terutama dari segi apresiasi nilai-nilai yang ada, seperti: moral, etika, agama. Angka-angka yang tertera dalam rapor dan ijazahnya banyak yang palsu—tidak mencerminkan kondisi yang sesungguhnya.

 

***

          Bagaimana dengan masyarakat Bali yang dikenal lewat budayanya  memiliki nilai luhur? Aktivitas membaca dengan penanaman nilai-nilai budaya pastilah ada relevansinya. Kini penanaman nilai-nilai budaya daerah—aset budaya nasional—menjadi persoalan para pecinta budaya dan pemerintah pusat dan daerah. Gempuran teknologi komunikasi yang canggih telah membuat anak semakin jauh dari budaya leluhurnya—jauh dari ahli waris nilai budaya. Adanya TV lokal di Bali memang telah membantu mengangkat budaya Bali. Namun, bagaimana pun juga televisi memiliki keterbatasan dalam menumbuhkan daya imajinasi anak yang penuh krativitas itu. Jalan keluarnya adalah memperkaya buku-buku perpustakaan, baik perpustakaan sekolah, perpustakaan yang dikelola yayasan, lebih-lebih perpustakaan milik pemerintah daerah dengan buku tentang budaya/kearifan lokal Bali. Hendaknya buku-buku yang memberi informasi dan pengetahuan tentang kearifan lokal sebanyak mungkin bisa diperoleh di perpustakaan terdekat.

Dunia anak adalah dunia imajinasi yang perlu ditumbuhkembangkan lewat buku bacaan sehingga terbentuk karakter yang dijiwai nilai-nilai budaya/kearifan lokal. Seirama dengan tumbuhnya minat baca, peran pemerintah adalah mengupayakan tersedianya buku-buku bacaan. Mengapa pemerintah? Tampaknya para penerbit swasta belum berani mengambil resiko untuk menerbitkan buku bacaan anak dalam kondisi budaya baca yang sangat rendah. Untuk bacaan orang dewasa saja dunia perbukuan masih suram, apalagi buku untuk anak-anak.

Penulis buku bacaan anak belum bergairah karena kurang memberikan harapan dalam finansial. Para pemenang penulisan bacaan anak, misalnya, tidak  berminat mengembangkan kreativitasnya karena  masalah imbalan yang belum menjanjikan untuk bisa hidup layak. Di sinilah dipelukan dana pemerintah yang memadai dalam pengadaan buku bacaan anak-anak sehinggga penulisnya bergairah.

          Khusus khasanah nilai-nilai budaya Bali yang sudah terbukti  mendatangkan wisatawan dan menghasilkan uang, tentulah sedapat mungkin diupapayakan agar anak tidak merasakan asing pada budaya daerahnya. Rasa keterasingan ini haruslah dihilangkan. Salah satu caranya adalah dengan pengadaan buku bacaan karena budaya bercerita  oleh orang tuanya hampir punah.

Buku bacaan yang mengangkat budaya Bali hendaknya mudah didapat oleh anak di perpustakaan. Dalam hal ini tentu saja minat baca anak sudah tumbuh dengan baik lewat pendidikan, baik di sekolah, di keluarga, maupun di masyarakat. Pembentukan karakter lewat pengadaan buku bacaan anak-anak adalah tugas kita bersama.

 

---

 

         

 

 

 

 

 

 

 

Identitas Penulis

 

Nama lengkap   : Drs. I Gusti Ketut Tribana

Pekerjaan         : Guru SMAN 6 Denpasar

Alamat Rumah  : Aspol Kereneng, Blok D No. 9 Denpasar

                               Telp./HP: (0361) 7423732

Judul  Tulisan    : Menjadikan Membaca sebagai Kebutuhan dan Hambatannya

         

 

         

 

         

          

0 komentar: